Setelah 22 Tahun Reformasi, Kebebasan Pers Justru Mengekang Kebebasan Jurnalis

posted in: Jurnalisme Berkeadilan | 2

Kebebasan pers yang terbuka luas oleh kedatangan Era Reformasi, ternyata tidak otomatis menjadi kebebasan jurnalis. Setelah 22 tahun, sebagian besar jurnalis media arus utama justru merasa kebebasannya makin lama makin terkekang oleh kepentingan perusahaannya.

Kesimpulan itu muncul dalam diskusi Asosiasi Jurnalis Video (AJV) dengan Yayasan Kehati dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), yang merupakan rangkaian menuju deklarasi AJV, 2 Februari 2020.

Sedangkan bagi aktifis lingkungan, sebagaimana yang disinggung tokoh lingkungan hidup Erna Witoelar, Direktur Eksekutif WALHI Nasional, Nur Hidayati, serta Direktur Komunikasi dan Penggalangan Sumber Daya Yayasan KEHATI, Rika Anggarini, media massa tidak memberikan perhatian dan tempat yang layak terhadap perlindungan keanekaragaman hayati dan pelestarian lingkungan hidup.

Mendorong kebebasan jurnalis merupakan kunci kebebasan jurnalistik yang sesungguhnya. Kebebasan ini sekarang terbuka lebar karena media sosial telah menjelma menjadi media massa baru yang lebih berpengaruh. Dominasi perusahaan media telah menjadi masa lalu.

Kebebasan jurnalis menggunakan media massa yang bebas diharapkan mampu mendorong manfaat jurnalistik yang lebih baik bagi masyarakat. Antara lain, meningkatkan perhatian di bidang lingkungan hidup.

Jurnalis senior yang merupakan tokoh pers nasional, Nugroho F. Yudho, Didik Supriyanto, Haris Jauhari, meyakini dalam dunia media massa baru yang makin populer adalah jurnalistik berbasis video. Karena itu, bersama sejumlah tokoh di berbagai bidang, mereka mendirikan AJV.

2 Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *